WarNie PeaChZa Site

~ sekedar coretan seorang gadis pemimpi ~

Feb
20

Sinopsis

Posted under by peachza

” JANGAN BERI AKU NARKOBA “

Beberapa waktu yang lalu ketika libur sekolah tentunya, tak sengaja ketika aku berkunjung ke perpustakaan kota, aku melihat sebuah pengumuman lomba sebagai rangka peringati hardiknas , lomba menulis sinopsis tingkat SMA/SMK dan keinginan untuk ikut pun muncul.ketika melihat tanggal deadline, tinggal beberapa hari lagi sedangkan aku terlambat mengetahuinya .kontan saat itu juga aku mencari sebuah buku untuk kutulis sinopsisnya.

melihat banyak peserta yang mendaftar , nyaliku agak ciut juga apalagi waktuku tak banyak tapi ah apasalahnya mencoba, gila, aku kebingungan mencari buku apa, buku – buku yang sudah lama kubaca jelas aku tak begitu ingat isinya walau tahu ceritanya apa. mengambil buku – buku sastra dan cerita cinta jelas itu umum sekali dan pasti sinopsis ku gak kan jauh beda ma peserta yang lain, dan aku ingin berbeda tentunya.akhirnya setelah lama berkutat di perpustakaan, kutemukan sebuah buku tentang narkoba, gila lumayan tebal sich tapi gak tw kenapa aku memilih buku itu, aku belum pernah membacanya dan aku tertarik akan isinya. sebuah cerita fiksi bahkan mendekati non fiksi tentang NARKOBA.

alhasil, kupilih buku itu walau aku tw untuk membacanya dan menghabiskan isi buku itu aku harus bergadang sampai tengah malam, aku belum mengeri apa yang akan kutulis dalam sinopsis ciptaanku, karena gak mungkin donk aku hanya menulis isi sinopsis di sampul belakang buku itu, disini yang ditekankan adalah karya sendiri.akhirnya dalam beberapa hari aku berusaha baik ngebut dalam memahami dan membaca ceritanya juga dalam menulis sinopsisnya, gila, sulit tentu saja.tapi aku tak menyerah, waktu pengumpulan hampir tiba dan naskahku masih terkatung – katung dalam draft cerita, bolak balik salah hehehe, namun akhirnya jadi juga,walau pada saat pengumpulan bertepatan hari libur dan aku terlambat mengumpulkannnya, aku hampir kecewa, aku pikir aku terlambat tapi gak twnya waktu pengumpulan masih tersisa beberapa jam, yup, itu hari terakhir akupun bernafas lega dan pulang.

dan saat ini aku ingin, menulis sinopsis karyaku di blog tercintaku ini,hehehe,:

begin

” Jangan Beri Aku Narkoba ”

Banyak orang bilang narkoba adalah benda jahat yang menyesatkan, jerat setan dan sebuah malapetaka.dunianya adalah lorong gelap. Bagi sebagian orang yang mengalaminya merupakan sejarah kelam yang patut dikubur dan dianggap tidak pernah ada.

Namun tidak bagi Arimbi, gadis kaya berusia sembilan belas tahun sebagai korban tak terelakkan dari kehidupan kaum jetset yang penuh kebobrokan.menganggap bahwa narkoba adalah sebuah kebenaran, kemenangan dan kehidupan.kehidupan yang selama ini ia inginkan, sebagai jalan keluar dari konflik – konflik keluarga yang membuatnya muak dan menderita

Perselingkuhan , pertengkaran yang tiada henti dan berujung pada kekerasan yang selalu mewarnai kehidupan orang tuanya membuatnya merana dan asing, kurangnya perhatian yang mereka berikan membuatnya merasa tak mengenal mereka, Arimbi membenci orang tuanya, membenci mereka yang terlalu asyik dengan dunianya sendiri, membenci mereka yang melewati kehidupan dengan sandiwara hanya demi nama baik, membenci mereka yang menganggapnya tidak pernah ada dan menganggapnya baik – baik saja dengan uang mereka.

Rasa depresi dan frustasi beratnya, membuatnya lari, lari dari kehidupan monoton yang diciptakan orang tuanya menuju kehidupan yang ia ciptakan dengan pemahamannya sendiri, sesuatu yang dianggapnya jalan keluar.

Arimbi ingin bebas, bebas dari kehidupan yang baginya serasa menyebalkan. Bermula dari penyimpangan kecil, Arimbi menjadi remaja yang lepas kontrol, Arimbi mulai mengenal rokok, Miras dan Klub-klub malam, bergaul dengan laki – laki namun tak sedikitpun ia tertarik, baginya semua laki – laki biadap seperti ayahnya, Maniak VCD porno dan tak sebatas itu, kekecewaannnya pada kedua orang tuanya membuatnya memiliki penyimpangan sexual

Rasa ingin melindungi terhadap perempuan ketika melihat ibunya menderita akibat kekerasan ayahnya, mebuatnya menjadi seorang lesbian.Hingga pada akhirnya ia pun mengenal Narkoba. Dalam waktu singkat narkoba mendominasi hidupnya, mendatangkan kesenangan dan penderitaan yang tidak disadarinya.Arimbi mencari jati dirinya lewat bubuk melenakan itu. Bagi Arimbi Narkoba adalah dewa penolongnya yang membuatnya terlepas dari dunia yang dibencinya.

Ditemukannnya hidup dan kemenangan menurut pemahamannya sendiri yang selalu ia yakini kenyataannya, kebahagiaannnya bertambah ketika ia menemukan sahabat dalam dunianya yang baru.Rajib, seorang pengedar yang membuatnya mengenal narkoba dan Vela, gadis malang korban kemiskinan yang telah meluluhkan hatinya.Arimbi jatuh cinta padanya.Jiwanya semakin melayang terbang kedunianya ketika Vela membalas cintanya,cinta yang terlarang menurut norma. Bersama Vela dan Rajib ia berpetualang dalam jeratan narkoba, mencoba segala bentuk narkoba dan menikmati kenikmatan semu yang dirasanya kekal, sakitnya sakaw tak membuatnya sadar.

Namun, Sesingkat ia mengenal sesingkat pula ia ketahuan, Perubahan diri Arimbi telah membuktikan semuanya.Orang tua Arimbi marah besar mengetahui anaknya terjerumus kedalam limbah hitam tersebut.tetapi, apa pedulinya Arimbi!?!!Ia semakin membenci orang tuanya yang memutuskan memasukkannnya kedalam panti rehabilitasi dan menjalani detoksifikasi, apalagi melihat alasan bahwa sebagian besar alasan mereka adalah kehormatan dan nama baik karena mereka orang penting.

Arimbi tak punya kekuatan untuk mengelak, ibunya memiliki sekawanan orang yang membuatnya tersudut dan tak berdaya. Arimbi mengalami penderitaan yang sangat bagaimana ia harus menahan sakitnya masa detoksifikasi, menahan ketidak betahannya dalam penjara panti, dan menjalani terapi – terapi menyebalkan bersama para psikolog dan yang paling menyakitkan baginya adalah kenyataan ia harus berpisah dengan Vela, Kekasih hatinya. Arimbi semakin menderita.

Dalam kurun waktu beberapa bulan, dia memang sembuh, dia sadar narkoba itu jahat, narkoba itu menghancurkan tetapi bukan berarti dia bersih.Arimbi tetap berpendapat bahwa narkoba adalah kebenaran dan kenyataan.

Arimbi tak pernah memandang narkoba sebagai suatu kesalahan, sebagai suatu penyebab kehancuran, seperti yang orang – orang bertata krama diluar sana berfikir.Baginya narkoba hanya sebentuk barang yang sangat cerdik memainkan emosi, ia hanya pembuai.apa bedanya narkoba dengan pengkhianatan, perselingkuhan dan penghamburan uang di pusat – pusat perbelanjaan…..sama saja bukan?!!!

Kejahatan terbesar narkoba adalah membuat pemakainya merasa narkoba adalah malaikat, jalan keluar dan penolong. Menipu si pemakai sehingga memandang dunia dan kehidupan tidak lebih penting dari sekedar kenikmatan saat memakainya. pemakai merasa bahagia , ia tak sadar hidupnya sedang dirusak.

Arimbi tetap pada keyakinanya, tetapi bukan lagi narkoba yang ia inginkan melainkan Vela, gadis yang menjadi pelabuhan cintanya..Arimbi benar – benar mencintainya.Hasrat dan perasaan cintanya membuatnya nekad dan melakukan pelarian, Arimbi kabur untuk Vela.

Kenyataan cinta dalam diri mereka membuat kehidupan baru yang sulit tuk diterima tapi……siapa yang peduli?!?mereka tidak peduli, hidup mereka adalah milik mereka.Kisah Arimbi tak berhenti sampai disitu.Perawatan panti bermanfaat untuknya.Ia tak lagi menyentuh narkoba, ia sadar narkoba itu jahat namun tak merubah pandangannya.Bagi Arimbi ia tetap dewa penolong, narkoba bukan perusak tetapi hanya barang yang pandai mempermainkan emosi, narkoba hanya jalan untuk mendapatkan kehidupan yang ia inginkan, narkoba adalah jembatan untuk dia mendapatkan cinta, cinta Vela…untuk dirinya.

Penyesalan selalu datang terlambat, ketika semua sudah terjadi kenapa ayah dan ibunya mau kembali, mau memperbaiki puing – puing hidupnya.Terlambat…….Arimbi terlalu jauh melangkah….., terlambat untuk membuatnya kembali norma……l, terlambat untuk menghargai orang tuanya……….kenapa mereka harus peduli disaat semua sudah terjadi……………….

Arimbi kokoh pada jalannya, ia protes, ia berontak, ia putus asa ketika penderitaan demi penderitaan ia lalui……ia protes kenapa semua menyudutkannya……menganggapnya sebagai suatu kesalahan karena memakai narkoba……..menganggapnya gadis liar karena mencintai sesamanya………semua orang menyalahkannya dan menganggapnya korban bubuk mematikan………semua mengkambing hitamkan narkoba atas tragedi kompleks yang terjadi dalam bathinnya……..semua tidak sadar ketika menyudutkannya sebagai kesalahan mutlak, mereka lupa akan kesalahan lain yang lebih berbahaya……….yang membuatnya datang pada narkoba.Manusia.Orang tua dengan nurani bobroknya…….!

Bertata krama, berbudi luhur dan tidak mau kenal narkoba bahkan kepalang sibuk memberantasnya hingga lupa untuk meneropong hati para korbannya, korban narkoba tak akan pernah habis………dia adalah pelarian ketika masalah datang membelit dan tak tahu harus lari kemana. Narkoba ada ketika empati manusia tak ada.Arimbi berargumen bahwa ia menggapai narkoba ketika empati orangtuanya tak ada sebelum dia dicap salah dan setelah sekarang dia menjadi orang yang salah, mereka sibuk untuk mengangkatnya dari keadaan yang mereka anggap salah…….mereka tidak pernah sadar kesalahan bersumber pada diri mereka.Narkoba hanya pelarian……….Arimbi hanya korban.

Dan pada akhirnya, Arimbi sampai pada kondisi perasaan manusia yang paling menyedihkan……..putus asa.Ketika penderitaan demi penderitaan yang dirasanya semakin berat, Arimbi mengambil jalan pintas.Kematian.Arimbi mencoba bunuh diri.

” Bagiku saat ini, mati adalah sesuatu yang indah,kenapa harus takut??Hidupku adalah siksa dan mati hanya jalan keluar untuk hidup yang baru “

——-

dan itulah sinopsisku, tidak menarik mungkin tapi telah mengantarku mendapat piala kemenangan, ya berkat cerita ini aku menang jadi juara penulisan sinopsis bahkan aku tak percaya bisa mengalahkan sinopsis cerita lain yang cukup hebat..dan untuk itu kutulis di blog tercinta ku ini sebagai ucapan terima kasih kepada “Alberthiene Endah “ yang telah menulis buku “Jangan Beri Aku Narkoba “ dan yang telah kuangkat dalam penulisan sinopsisku.aku tak pernah mengenalnya atau bahkan bertemu dengannya tapi percayalah,Anda orang yang hebat , yang telah menulis buku ini dan memberi saya banyak pengertian.terima kasih.dan aku bangga karena punya kesempatan untuk membacanya dan menulis sinopsis buku Anda.

~ Warnie Peach ~

Add A Comment