12
Cerpenq
Posted under by peachza
BENCI ( BENAR-BENAR CINTA )
Nindy berdiri sambil membawa sekotak kue bolu ditangannya dan menatap enggan pada seorang cowok ganteng yang tengah bermain basket bersama seorang anak kecil yang tak lain adalah adiknya, mereka bermain di halaman belakang rumah seperti biasanya.
Nindy berdiri di pintu pagar pembatas halaman belakang rumahnya dan rumah cowok itu. Mereka bertetangga dan rumah mereka bersebelahan.ada pintu penghubung berupa pagar setinggi satu meter pada halaman belakang rumah mereka.
Dengan terpaksa, Nindy berjalan mendekat ketika cowok itu melihatnya. Seringai menyebalkan yang sudah dikenal Nindy muncul diwajah tampannya. Itulah hal yang membuat Nindy malas bertemu yaitu kenyataan bahwa Vian, nama cowok itu senang sekali menggodanya. Vian adalah tetangga sekaligus teman sekolahnya. Keluarga mereka bersahabat namun tidak pada keduanya. Nindy sendiri heran, kenapa Vian senang sekali menggoda dan mengejeknya, padahal ia merasa tak pernah membuat salah. Mereka cukup akrab, dalam bertengkar tentunya.
Dan kali ini, Nindy benar-benar jengkel berat pada Vian tapi saat ini ia, mau tak mau harus bertatap muka dengan si kecoa dungu, itu panggilan Nindy pada Vian, karena perintah ibunya untuk menyerahkan titipan ibu- ibu PKK setelah arisan tadi pada ibu Vian.
Ketika Nindy berjalan mendekat, Vian menghentikan aksinya mendrible – ndrible bola dan nyengir menghampiri Nindy.
“Hai , Tape Sing-…….” belum selesai Vian mencetuskan julukan kesukaannya pada Nindy, Nindy memotong datar
“Nih, Titipan dari ibu – ibu PKK buat Nyokap Lo!” ujar Nindy sambil menyerahkan kotak itu.
“Apaan?Lo ikut PKK juga!” ledeknya sembari bertanya, tanpa berniat menerima kotak itu. Senyum menghiasi wajahnya melihat muka Nindy yang mulai marah.
“Bukan gue dodol, brengsek Lo!nih cepetan, gue mo pergi! “ cetus Nindy sambil mengulurkan kotak itu.
“itu isinya apaan??” tanya Vian
“Ya mana gue tau!Lihat aja ndiri!udah ,ni terima. lelet banget sich Lo!” hardik Nindy gak sabar.
“Ketus banget sich, Kong!”singkong, maksudnya.ihihiihihi “oh, elo masih marah ya, gara- gara si Boni?!jangan suka marah, cepet tua lho.”goda Vian tanpa mengindahkan kotak di tangan Nindy. “Elo jangan ge – er deh, Si Boni mah gak sreg lagi ma Lo setelah tau elo tuh kayak apa sebenernya, kayak mak lampir………..hahahhahha” imbuh Vian sambil tertawa menyebalkan. Jengkel dihati Nindy semakin bertambah satu mili, Vian bener – bener brengsek!makinya dalam hati. Nindy benar – benar sebal melihatnya.
“Elo gak mau terima ini?!?Ya udah!” cetus Nindy sebal seraya berbalik tetapi dengan cepat Vian menarik tangannya, mencegah seraya berkata “Eittt…….siapa bilang!” kemudian mengambil kotak ditangan Nindy. Tanpa bicara Nindy melepaskan diri dan berbalik pergi.
“Trims, Singkong. Awas nabrak pagar ya!” teriak Vian masih menggodanya sambil memperhatikan Nindy yang berlari kembali kerumahnya.
***
Nindy duduk sendiri diatas tempat tidurnya sambil menekuk lutut. Kejengkelan hatinya benar-benar bertambah gara-gara Vian.
“Elo kenapa sich yan, jahat ama gue!” bisiknya lirih sambil menahan tangis. Nindy teringat akan hal yang terjadi beberapa hari yang lalu, yang membuat ia benar-benar marah pada Vian.
Sudah lagu lama kaLo Vian senang menggoda dan mengejek Nindy. Dimanapun Nindy berada, kaLo ada Vian pasti ada perdebatan dan bagi Nindy kali ini, Vian sudah kelewatan. Vian tega mempermalukan Nindy didepan teman-teman. Memang sudah lama Vian menggoda Nindy dengan membuat gosip kalau Boni, cowok berbadan monster dari kelas IPS suka pada Nindy dan awalnya Nindy tak begitu menggubris tetapi beberapa hari yang lalu, Vian bak sutradara film telah membuat Nindy malu dengan aksi rekaannya dikantin sekolah. Sebagai inti, ketika itu Boni dengan support teman – temannya menyatakan cinta pada Nindy dan Vian sebagai pemandunya.
Vian tanpa merasa berdosa membuat seisi kantin menertawakan Nindy dan Boni. Wajah Nindy merah padam bak ketela rebus apalagi mendengar ocehan-ocehan Vian yang memalukan. Nindy benar- benar marah. Vian memang minta maaf akhirnya tapi Nindy tahu sifat Vian. Mereka sudah lama saling mengenal dan bahkan jauh di lubuk hati Nindy, Vian punya arti khusus walau terkadang dia sangat menjengkelkan. Tetapi setelah semua ulah Vian itu, membuat Nindy beranggapan kaLo Vian cuma melihatnya sebagai gadis jelek yang biasa dijadikan bulan-bulanan dan bahan ejekan.
Kenyataan itu memang menyakitkan tapi itulah yang terjadi dan kenyataannya sekarang Nindy benar-benar membenci Vian, ulah-ulah Vian membuat Nindy selalu negativ thinking baik pada Vian maupun pada dirinya sendiri.
“Elo bener-bener brengsek, Yan!Elo gak tau gimana perasaan gue ke elo juga karena ulah –ulah Lo.Kenapa gue bisa sayang sama Elo sich!!!” Sesal Nindy disertai air mata.
***
Sejak saat itu, Nindy benar-benar menghindar dari Vian. Nindy menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang membuatnya gembira dan senang walaupun sebenarnya Vian terus mengekornya, menggoda.
“Nin, kayaknya si Vian bingung dan resah gitu deh ama sikap Lo sekarang ?? “ujar Alin sobat dekat Nindy suatu ketika.
“udah, biarin aja. Dia cuma kehilangan sosok untuk dijadiin bulan-bulanan!” bantah Nindy ketika itu.“Gue gak pernah lagi marah-marah atau ngehirauin dia. Gue diem aja and pergi kalo dia mulai rese’ nggodain gue!”imbuhnya.
“hmm, mentang-mentang elo tetangganya. Dia seenak udelnya bikin elo bete. Awalnya gue sich suka ngelihat elo ribut ma dia,hehehe,abisnya lucu tapi lama-lama gue jadi eneg juga deh!”komentar Alin
“Udahlah, jangan bahas dia lagi. Bikin suntuk!”ujar Nindy menyudahi sekaligus sebagai pelipur laranya.
***
Esok harinya ketika jam istirahat, Nindy keluar dari toilet ketika tanpa sengaja dia berpapasan dengan Vian dan teman-temannya di koridor. Sejenak mereka saling melihat, tiba-tiba salah satu teman Vian dari kelas lain yang tengah bergabung, berkata menggodanya.
“Wah, Nindy yang baru dapat surat cinta, gaya banget sich!gak mau nyapa kita-kita” goda cowok bernama Dito yang dikenal Nindy sebagai teman sekelas Aldo.
“Apa??Potongan singkong kering gini dapet surat cinta!dari Boni ya?ahhahahha” tiba-tiba Vian menyahut jahil.
“Huss…….Yan!jangan menghina begitu dong. Elo gak tau sich, elo aja kalah ma si Nindy. Sumpahin dia Nin ngomong kayak gitu….haahhahha” sahut Dito sambil tertawa. Nindy tak berkomentar tapi lansung berjalan pergi dan tepat diujung koridor Nindy berpapasan dengan Aldo, cowok kece dari kelas IPA 3 yang tak lain adalah teman sekelas Dito. Nindy boleh berbangga karena Aldo anggapan negativ Nindy pada dirinya sendiri berubah. Aldo, salah satu cowok keren disekolahnya jatuh cinta padanya dan dia memang memberi Nindy surat cinta seperti yang dikatakan Dito. Ternyata cowok juga ember!pikir Nindy ketika mendengar seloroh Dito tadi, dia tertawa sendiri. Kehadiran Aldo membuat Nindy kembali ceria walaupun sebenarnya ia bimbang karena perasaannya pada Vian.
“Nah, Yan. Itu tuh yang gue maksud!” cetus Dito seraya menepuk bahu Vian
“Apaan sich” tanya Vian gak ngerti. “Tuh” dengan kepalanya, Dito menunjuk Nindy dan Aldo yang tengah mengobrol ceria di kejauhan .Vian melihat keduanya.
“Hahahhaha, Elo malah ngejodohin Nindy sama si Boni, orang Aldo saja nyangkut..hahhaha” gurau Dito.
“Jadi bener si Aldo ngirim surat cinta ma Nindy??” tanya Vian dengan ekspresi yang sukar ditebak.
“Hahhahah, Bukan hanya ngirim, mungkin juga udah nembak kaleee” sahut Dito sekenanya.
“Udah berita lama, malah mungkin, mereka udah jadian!” sambung Irfan “gue sering lihat mereka bareng dari kemarin-kemarin”.
“Apa??” Vian benar-benar terkejut
“Gak usah heran deh, Yan!Elonya aja yang buta. Si Nindy tuh oke banget, masak Lo jodoh-jodohin ma si Karung Beras, Aldo aja kepincut……….hahahhahah, gue juga mau sebenarnya” sahut Gege bergurau menimpali.
“B-Bukan itu, apa bener mereka dah jadian?” Tanya Vian serius
“Kayaknya sich, akhir-akhir ini gue sering ngelihat mereka jalan bareng. Emang kenapa?kok tampang Lo serius gitu?” Irfan balik bertanya. Vian menggeleng pelan, tiba-tiba dia jadi pendiam.
***
Senja telah tiba, matahari hampir tenggelam ketika Nindy seperti biasa melaksanakan ritual rutinnya menyiram bunga dihalaman belakang, sesekali Nindy berjongkok mencabuti rumput-rumput liar yang mulai tumbuh disekitar bunga-bunganya.
Nindy berdiri tegak setelah menyiramkan tetes terakhir air ke dalam pot bunga mawarnya, kemudian berbalik. Hampir saja Nindy berteriak terkejut ketika melihat Vian tengah bersandar pada pilar bambu yang berada persis di belakangnya. Berdiri menatapnya, wajah Nindy berubah keruh.
“Sejak kapan Lo disitu?!?” tanyanya ketus.
“Seabad yang lalu!”sahut Vian sambil menatapnya, Nindy jadi salah tingkah. Berusaha cuek, Nindy beranjak pergi.
“Nin” cegah Vian.deg!jantung Nindy berdetak keras mendengar Vian memanggil namanya dengan benar. Mau tak mau Nindy berhenti, Menoleh.
“Elo beneran udah jadian ma Aldo??” tanya Vian membuat Nindy terkejut untuk kedua kalinya, Nindy berusaha bersikap tenang.
“Emangnya kenapa?!”tanyanya ketus “ Masih mau ngeledek lagi?!Aldo lebih baik daripada si Boni, Iyakan?!!”sindir Nindy.
“Jadi…”
“Terserah anggapan elo deh. Nggak kaget kalo Lo penasaran!!” ujar Nindy berbohong “ Bisa-bisanya cowok kayak Aldo bisa suka sama cewek jelek kayak gue, itukan pikiran elo,Yan??!”todong Nindy
“Elo terlalu negativ thinking!”
“Dan elo yang bikin gue negativ thinking!!” cetus Nindy sengit, dengan segera ditinggalkannya Vian yang masih berdiri memandangnya.
***
Nindy menceritakan pertemuannya dengan Vian kemarin sore pada Alin, sahabatnya. Mau tak mau dia juga heran kenapa Vian tiba-tiba mempertanyakan hubungannya dengan Aldo, Alin nyengir setelah mendengar cerita Nindy.
“Kenapa elo malah ketawa,Lin?” tanya Nindy.
“Gue rasa anggapan gue bener, Nin. Tau nggak?!sebetulnya,Vian tuh peduli ma elo. Kemarin gue kan bilang kalo dia resah karena sikap elo ke dia. Sekarang ditambah gossip elo ma Aldo. Gue ngerasa ya kalo sebenernya Vian tuh sayang ma elo!” terang Alin, Nindy menatapnya terkejut. Kemudian menggeleng pelan.
“Nggak mungkin, Lin. KaLo bener dia sayang ma gue, kenapa dia seneng banget bikin gue marah, ngeledek,ngejahilin bahkan bikin gue malu. Udahlah, si Vian emang gila, gue gak naruh harapan lagi ma dia !” aku Nindy
“Kalo elo gak naruh harapan ma dia lagi, terus kenapa elo bimbang mau nerima Aldo yang jelas – jelas ngarepin elo!” skak Alin akhirnya. “ Elo kejepit antar benci dan cinta,kan?!. Si Vian bukan hanya cowok jahil yang ganteng, dia juga pencuri hati yang ulung…………….hehehhehheh” seloroh Alin berkelakar.
“Ah, udahlah. Bikin bete aja! “ omel Nindy akhirnya, Alin tertawa disebelahnya.
***
Nindy benar-benar menghindari Vian. Sampai ketika malam minggu, mau tak mau ia harus bertemu Vian, keluarga Nindy mendapat undangan dari nenek Vian yang merayakan ulang tahunnya yang ke 50. Keluarga Nindy dan Vian sudah kenal baik begitupula dengan neneknya, oma Wijil, yang juga menganggap keluarga Nindy sebagai bagian dari keluarganya.
Nindy terpaksa ikut karena oma Wijil sendiri yang menghendaki Nindy datang, Nindy berangkat bersama Ayah dan Ibunya. Acaranya cukup sederhana tetapi meriah karena seluruh kerabat Vian datang, satu-satunya orang lain hanya keluarga Nindy.
Ketika acara berakhir, Nindy mendadak kesal karena oma Wijil menahannnya untuk tidak segera pulang bersama ayah dan ibunya.
“ Kapan lagi kamu kemari. Nanti kamu pulang sama Vian saja,ya. Biar ayah ibumu pulang duluan” ujar oma Wijil menahannya. Nindy meminta pertolongan pada ibunya dengan tatapan mata, tetapi ibunya malah berkata mengizinkan.
“ Ya sudah, nanti kamu pulang sama nak Vian. Ayah dan Ibu pulang duluan bersama orang tua Vian. Hati-hati saja, Ya!” ujar Ibunya seraya tersenyum.
Nindy tak bisa berkutik, semua orang setuju ia tinggal lebih lama dan ia bertambah kesal ketika Vian berkata, menggodanya dengan sindiran.
“Aldo gak bakalan marah kalo cuma menghadiri pesta Oma. Dan gue gak bakalan bawa Elo kabur kecuali kalo Elo mau………..ehhehhehehheh”. Vian tertawa renyah, tidak peduli muka Nindy yang seperti kepiting rebus.
Nindy ikut berkumpul bersama Vian dan saudara-saudaranya. Sesekali Nindy ikut tersenyum mendengar celoteh- celoteh mereka dan Nindy tidak tahu bagaimana dia bisa duduk berdampingan dengan Vian sedari tadi. Nindy cukup senang karena Vian menghormatinya dengan tidak memanggilnya tape singkong seperti biasanya. Dan muka Nindy memerah ketika tiba-tiba salah satu sepupu Vian berkata kalo mereka pasangan yang cocok. Nah,ya!!!.
Jam dinding menunjukkan pukul sembilan kurang seperempat, Nindy sudah gatal ingin pulang, kelihatannya Vian menyadari keinginan Nindy, Vian segera bangkit berdiri dan menoleh pada Nindy. Beberapa menit kemudian mereka sudah meninggalkan kediaman oma Wijil.
Angin malam terasa dingin menyerang tengkuk Nindy, mereka pulang dengan motor Vian. Sesekali Nindy menatap Vian sedih, Nindy teringat ucapan Alin.
“Elo kejepit antar benci dan cinta,kan?!. Si Vian bukan hanya cowok jahil yang ganteng, dia juga pencuri hati yang ulung!”
Seperti tersadar, Nindy menatap jalanan. Bukan arah menuju rumahnya.
“K-Kita mau kemana,Yan?” tanya Nindy dibelakang Vian
“Jalan-jalan!” sahut Vian dari balik helm kerennya.
Dan Nindy segera tahu ketika Vian membelokkan motor kerennya kearah pantai sampai akhirnya berhenti. Suara deburan ombak terdengar riang, angin berhembus membelai-belai rambut panjang Nindy, sinar bulan dan warna pasir yang putih menjadi penerang malam. Tak berapa lama keduanya berdiri diatas hamparan pasir, Nindy bersidekap menahan hawa dingin.
“Ngapain sich Yan kemari?udah malem, dingin lagi!” cetus Nindy “ Kalo elo mau jalan- jalan disini, anterin gue du- “
“Nin….” potong Vian sambil menatap laut. “ Elo benci ma gue??” tanyanya tiba-tiba. Nindy diam terkejut, tapi ia berusaha tampak tenang.
“ Elo benci ma gue yang tiap hari ngeledekin elo, ngejahilin elo atau bahkan nyakitin perasaan elo?!!” lanjut Vian. Kalimat itu bukan saja pertanyaan tetapi juga pernyataan, Nindy tetap diam tak menjawab.
“Akhir-akhir ini, elo sengaja ngehindar dari gue kan?? Dan gue tahu elo ngehindar dari gue bukan karena Aldo. Gue tahu kalo elo marah ma gue!”.
“Kalo udah tahu ngapain nanya! “sahut Nindy ketus. “ Iya, gue benci ma elo dan gak ada hubungannya ma Aldo!. Gue capek, Yan. Gue capek ndengerin elo ngeledekin gue , ngehina gue bahkan bikin malu gue didepan temen-temen “ Nindy berkata emosi.
“Elo gak tahu gimana perasaan gue. Yang elo tahu, gue cuma cewek jelek yang bagi elo pantes buat dijadiin bulan-bulanan atau ejekan, bahan tertawaan. Dan elo gak pernah mau peduli, elo jahat Yan!” tuding Nindy emosi seiring dengan ombak yang berkejar-kejaran didepan mereka , angin malam menyapu poni didahi Nindy , Vian menatapnya.
“Gue mau pulang !!” cetus Nindy lagi
“ Elo gak jadian kan ma Aldo? “ tanya Vian tanpa menghiraukan ucapan Nindy , dengan heran dan kesal Nindy balik menatapnya.
“Ngapain sich Elo nanya- nanya gue ma Aldo terus?!?! Gue jadian ato enggak elo juga gak bakalan peduli!” ujar nindy marah
“Gue peduli !” Vian berseru keras “ kaLo gue gak peduli, ngapain gue nanya- nanya terus. Dan gue tahu elo belum jadian sama Aldo!”
“Terus kenapa?!” tanya Nindy dengan tatapan kesal. Vian diam sambil terus menatapnya.
“ooh, mungkin elo peduli karena kalo gue jadian ma Aldo tentunya elo bakal kehilangan seseorang yang bisa elo ejek seenaknya, gitu!” tuding Nindy dengan nada tinggi.
“Elo Cuma bik-….” kata-kata Nindy terhenti ketika tiba-tiba Vian memeluknya, Nindy mematung dalam pelukan erat Vian. Bingung , takut dan tanda tanya.
“Gue sayang sama Lo, Nin!” ujar Vian sambil mendekap Nindy erat “ gue peduli karena gue sayang sama elo , gue cinta sama elo…….!”
Seperti mendengar petir, Nindy tercengang, tubuhnya seakan membeku, Nindy sulit bernafas tetapi Vian terus erat memeluknya.
“Sejak dulu gue udah sayang sama elo. Dan gue gak pernah serius ngatain elo jelek, ngeledekin atau bahkan ngejahilin elo. Bagi gue elo bukan cewek jelek. Gue seneng kalo ngelihat elo cemberut atau marah. Elo gak terlihat jelek kalo lagi marah bahkan semakin cantik. Dan gue bener-bener kehilangan elo ketika elo ngehindar dari gue. Gue ngerasa marah dan cemburu ketika tahu gossip elo ma Aldo. Karena gue bener-bener sayang sama elo, Nin!” aku Vian panjang lebar.
“Yan…….” Nindy bersuara tetapi hampir seperti bisikan, tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Vian melonggarkan pelukannya tetapi tidak melepaskannya.
“ Gue tahu elo marah banget ma gue, gue tahu elo jengkel ma gue tapi jujur gue bener-bener gak mau elo benci ma gue. Gue tahu mungkin gue keterlaluan dan terlalu bego ato jaim buat bersikap lembut tapi gue bener-bener gak pingin elo sama orang lain. Gue bener-bener sayang sama Elo, Nin. Dan gue bener-bener minta maaf banget udah sering bikin elo marah, jengkel, sakit hati bahkan ngebenci gue.Gue minta maaf. Gue gak mau kehilangan elo,Nin. Dan gue emang tolol karena gak bisa terus terang atau nunjukin sejak dulu”. Vian baru melepaskan pelukannya dan menatap Nindy. Nindy membalas tatapan Vian dengan beribu-ribu perasaan. Sakit hati dan kemarahannya lumer seketika, yang ada adalah perasaan tak percaya, bimbang, terkejut dan cinta yang terpendam.
“Gue serius, Nin!!”tegas Vian. Nindy bisa melihat kesungguhan ucapan Vian dari matanya, perlahan-lahan air mata muncul dipelupuk matanya dan menetes jatuh.
“Elo gak sedang ngerjain gue kan, Yan?” Tanya Nindy pelan, mencari kepastian.
“Elo boleh bener-bener ngebenci dan ngejauhin gue kalo gue bercanda. Gue bener-bener serius, Nin. Gue sayang banget sama Elo!”
“Elo emang patut gue benci, Yan!” ujar Nindy membuat Vian resah, tetapi kemudian senyuman merekah diwajahnya “ Elo bener-bener gak peduli gimana perasaan gue sebenarnya ke elo. Gue udah nunggu ketika elo bilang semua ini. Itu pula yang bikin gue bimbang buat nerimo Aldo”
“Jadi………..”Vian menangkap maksud Nindy seakan tak percaya “Elo…….”
Vian tidak menyelesaikan ucapannya ketika melihat Nindy mengangguk tersenyum, hati Vian melonjak girang seakan ingin terbang. Senyuman lebar terpampang diwajah tampannya. Untuk kedua kalinya Vian memeluk Nindy erat menciptakan kehangatan ditengah heningnya malam dan meruntuhkan kemarahan dan kebencian yang menghalangi cinta di hati Nindy, deburan ombak menyaksikan dua hati itu………..
The End
hehhhehe, ini adalah cerpen karanganku yang paling aku sukai dari cerpen-cerpenku yang lain. aku udah buat cerpen ni dah lama, hanya saja baru aku relakan untuk nongol di blog ku ini.hiihhi…….peach and peace!
sayang.. aku ra iso basket..
wekekekekek…. :p
kekekkekkekekkekke………:P
he2 kok sama ya…. dengan kejadian di masa lalu aq????
thanks……
wehhehhe iya ta?
thanks yach dah comment and mampir .lam knal dr peachza
Add A Comment